Profil

AKSI NYATA Modul 3.1.a.10 "PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN"

 AKSI NYATA - Modul 3.1.a.10

PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

Oleh : Agus Supriatna, S.Pd, M.Si

CGP 2 Kabupaten Garut


Fasilitator : Yoyoh Rohayati

Pendamping : Yani Handayani

 

KASUS : SISWA TIDAK DISIPILIN DALAM MENGIKUTI PEMBELAJARAN (PTM)

  1. Peristiwa (Facts)

Latar Belakang

            Selama masa pandemi ini pembelajaran tetap berjalan dengan baik walaupun menggunakan daring dan luring atau dikenal dengan blended learning. Akan tetapi ketika saat ini sudah mulai pembelajaran tatap muka terbatas (PTM) dengan anjuran dan surat edaran dari pemerintah daerah, ada banyak cerita dan keunikan tersendiri yang ini menjadi sebuah permasalahan di sekolah dengan mengedepankan keberpihakan pada murd. Masalah yang munsul Salah satunya dialami oleh salah seorang guru yang memiliki masalah dengan beberapa siswa di kelasnya. Beberapa siswa di kelasnya kerap kali datang terlambat mengikuti pelajaran guru tersebut, bahkan salah satu dari mereka ada yang jumlah alpa nya melebihi batas ketentuan.  Keterlambatan tersebut sangat menyita waktu, kira-kira pernah sampai 30 menit keterlambatan mengikuti pelajaran. Kasus keterlambatan yang dilakukan oleh beberapa murid tersebut, selain melanggar kesepakatan kelas, juga mengganggu konsentrasi guru secara pribadi, dan mengganggu efektifitas belajar murid yang lainnya, juga akan berimbas pada keputusan pemberian nilai untuk penilaian akhir. Terlebih lagi untuk salah satu murid yang jumlah alpa nya melewati batas normal tentu tidak dapat diluluskan untuk mata pelajaran tersebut. Hal inilah  yang  menjadi kasus dan dilema bagi guru yang bersangkutan, dan beliau merasa kebingungan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya itu.

            Saya sebagai teman sejawat, kerap kali diajak berdiskusi tentang kasus yang dialami guru tersebut. Pada akhirnya sebagai seorang teman dan sebagai seorang guru, juga merasa tergugah untuk dapat membantu guru tersebut menyelesaikan masalahnya, sehingga guru tersebut mampu mengambil keputusan, untuk memberikan konsekuensi macam apa yang harus di berikan pada beberapa murid tersebut, sehingga masalah-masalah yang terjadi dalam kelanya bisa diatasi dengan baik, arif dan bijaksana.

            Langkah pertama yang saya ambil adalah dengan sharing, diskusi dengan teman sejawat yang memiliki permasalahan di kelasnya, mengajak serta kepala sekolah untuk berdiskusi. Dalam hal ini, kepala diposisikan sebagai figur atau panutan dalam menentukan atau mengambil keputusan secara bijak, yang nantinya akan kita jadikan cermin ataupun acuan dalam keputusan yang dipilih.

Berikutnya adalah dengan melakukan praktik coaching pada guru tersebut, membantu menggali kekuatan yang bisa diaktifkan oleh guru sendiri dalam menyelesaikan masalah dikelasnya sendiri. Coaching diterapkan dengan model TIRTA, sehingga coachee dalam hal ini guru teman sejawat yang memiliki masalah, dapat menemukan langkah-langkah terbaik yang bisa dia lakukan dalam mengantisipasi dan menyelesaikan masalahnya sendiri. 

Beberapa langkah yang akan dilakukan guru tersebut, merupakan pengambilan keputusan terbaik yang akan dia lakukan dalam menghadapi kasus dikelasnya.

            Setelah melakukan coaching, saya membantu guru tersebut untuk menimbang kasus yang ia hadapi dengan konsep pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, sebagai bentuk sosialisasi dan penerapan konsep yang saya dapatkan pada diklat CGP. Dengan melihat jenis kasus yang dihadapi, dilemma etika ataukah bujukan moral, kemudian melalui empat uji paradigma, selanjutnya tiga uji prinsip dan terakhir analisis melalui 9 langkah pengujian keputusan. Sehingga keputusan yang diambil, benar-benar telah sangat dipertimbangkan baik dan buruknya oleh guru yang bersangkutan.

 Secara tidak formal, desiminasi modul 3.1 telah dilakukan di ruang kepala sekolah dan teman sejawat

Rekan sejawat sedang menyampaikaan permasalahan yang dihadapinya, dan mendengarkan pendapat dari kepala sekolah sebagai figure dalam pengambilan keputusan, untuk menjadi bahan pertimbangan.

 Pelaksanaan coaching dengan teman sejawat, sebagai proses yang dijalankan sebagai dasar untuk selanjutnya ke tahapan pengujian pengambilan keputusan

 

Alasan Melakukan Aksi Nyata Tersebut

1.   Sudah menjadi kewajiban saya membantu teman sejawat yang sedang dalam kesulitan dalam mencari solusi dari masalahnya.

2.   Kasus yang dialami teman saya adalah kasus dilema etika, yang kebetulan konsep untuk pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, sehingga saya tergugah untuk membantu sekaligus melakukan diseminasi pada rekan sejawat terkait konsep baru yang saya pelajari di CGP

3.   Dengan membantu teman sejawat menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya, saya semakin banyak belajar dan pengalaman berharga sehingga bisa semakin luas dalam melakukan pengujian keputusan yang harus diambil guna menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Hasil Aksi Nyata yang Dilakukan

1.   Hasil aksi nyata yang dilakukan adalah, terwujudnya keputusan yang dirasa bijaksana yang bisa diterapkan oleh rekan sejawat kepada beberapa muridnya yang bermasalah, sebagai bentuk solusi dari kasus yang dihadapinya.

2.   Dokumentasi dari proses aksi nyata tentang konsep pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang dilakukan pada kepala sekolah dan juga teman sejawat.

3.   Dokumentasi adanya proses coaching yang mendasari pengambilan keputusan oleh pemimpin pembelajaaran.

4.   Tercapainya proses desiminasi ilmu dan pengalamaan baru terkait konsep pengambilan keputusan oleh pemimpin pembelajaran.

5.   Semakin banyak belajar diharapkan akan semakin baik dalam mengambil keputusan yang tepat, bermanfaat dan bijaksana.

 

2.       Perasaan (Feeling)

Perasaan Ketika dan Setelah Menjalankan Aksi Nyata

            Perasaan ketika melakukan aksi nyata, saya merasa mengalami sendiri situasi dilema etika yang dihadapi rekan sejawat terhadap muridnya. Hal tersebut karena kasus demikan bisa saja terjadi pada semua guru. Disatu sisi jika mengacu pada peraturan sekolah maka siswa tersebut tidak layak untuk menerima nilai tuntas dari guru, namun disisi lain, guru juga merasa iba, karena mungkin saja keputusan yang tidak tepat akan menghambat masa depan mereka, untuk bisa naik ke kelas berikutnya.

Keputusan yang diambil oleh guru yang bersangkutan setelah melakukan proses pengujian pengambilan keputusan, maka dengan memberikan nilai tuntas untuk nilai akhir, dengan catatan anak harus memperbaiki sikap dan perilaku serta menyelesaikan tugas-tugasnya meskipun terlambat. Paradigma yang digunakan adalah paradigma rasa keadilan lawan rasa kasihan, dan jangka pendek lawan jangka panjang.

            Perasaan saya setelah melakukan aksi nyata, saya jadi merasa lebih tenang karena sudah membantu memikirkan nasib murid, dengan mengutamakan konsep keberpihakkan pada murid. Saya juga merasa senang, karena sudah membantu rekan sejawat menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapinya sendiri, tanpa mendikte atau menggurui, tapi mengaktifkan kekuatan pikiran yang dimilikinya dengan pertanyaan-pertanyaan pemantik pada proses coaching model TIRTA, dan membimbing menerapkan konsep pengambilan keputusan oleh pemimpin pembelajaran dengan menerapkan empat uji paradigm, tiga uji prinsip dan 9 butir analisis pengujian keputusan.

 

3.       Pembelajaran (Finding)

Menentukan keputusan yang harus diambil, tidaklah mudah. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Konsep coaching dan konsep pengambilan keputusan oleh pemimpin pembelajaran, sangat membantu kita dalam melaksanakan tugas kita sebagai pemimpin pembelajaran yang kerap kali dihadapkan pada kasus dilemma etika maupun kasus bujukan moral. Akan tetapi bagaimana proses kita menyelesaikan masalah menjadi dasar bagi kita dalam mengambil sebuah keputusan tersulit sekalipun.

Keputusan yang kita ambil tentu tidak akan bisa mengakomodir keinginan semua orang, begitupun dengan risiko, konsekwensi dan kritik akan kerap kali hadir mendampingi keputusan yang kita ambil. Akan tetapi yakinlah bahwa mengambil keputusan akan lebih baik dari pada tidak melakukan apapun. Akantetapi dasari setiap keputusan yang kita ambil dengan ilmu, iman dan amal, untuk kebermanfaatan bagi banyak orang, sehingga keputusan yang akan kita ambil dirasa lebih tepat dan bijaksana.

 

4.       Penerapan Ke Depan (Future)

a.   Rencana perbaikan untuk pelaksanaan pembelajaran di masa mendatang

b.  Lebih meningkatkan sifat among, pada murid dalam pelaksanaan pembelajaran.

c.   Meningkatkan kemampuan coaching dalam menyelesaikan setiap permasalahan.

d.  Meningkatkan kemampuan dalam mengambil keputusan dengan selalu melakukan uji pengambilan keputusan, baik itu dengan paradigm, prinsip maupun 9 langkah analisis pengujian keputusan.


 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " AKSI NYATA Modul 3.1.a.10 "PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN""